BeritaDaerahNasional

Reog Ponorogo di Simalungun: Harmoni Budaya di Tanah Batak yang Bersemangat

795
×

Reog Ponorogo di Simalungun: Harmoni Budaya di Tanah Batak yang Bersemangat

Sebarkan artikel ini

Bossmudanews.com , Simalungun — Di tengah bentang alam perbukitan hijau Simalungun, tersimpan sebuah kisah menakjubkan tentang akulturasi budaya. Reog Ponorogo, seni pertunjukan tradisional khas Jawa Timur, telah tumbuh dan berkembang di tanah Batak sebagai simbol harmoni dan semangat multikulturalisme yang hidup berdampingan.

Ketua Umum Komunitas Reog Jawa Peranakan Sumatera Utara (KJRPS), Muhammad Dimas Pramana, mengungkapkan bahwa awal mula Reog Ponorogo masuk ke Simalungun tak lepas dari sejarah migrasi masyarakat Jawa yang datang sebagai buruh kontrak sekitar tahun 1999–2000. Para pendatang ini membawa serta tradisi leluhur mereka, termasuk Reog, yang kini telah berbaur dan diterima dalam masyarakat Batak.

“Ada perpaduan yang indah antara Reog Ponorogo dengan unsur budaya Batak. Gerakan tari, musik, dan kostumnya memiliki sentuhan khas Simalungun,” ujarnya pada Kamis (22/5/2025).

Adaptasi ini terlihat dalam integrasi alat musik tradisional Batak seperti gondang, serta pengaruh gerakan tari Simalungun dalam pertunjukan Reog. Namun, perbedaan tetap dipertahankan. Dimas menyebut bahwa Reog di Simalungun lebih menonjolkan unsur jaranan (kuda lumping) ketimbang unsur Reog yang bersifat magis sebagaimana lazimnya di Jawa Timur.

Uniknya, jaranan dan Reog di Simalungun sering digabung dalam satu pertunjukan — suatu hal yang tidak lazim di daerah asalnya, Ponorogo. Dimas menekankan bahwa di Sumatera Utara, para seniman memiliki kebebasan berekspresi karena tidak adanya ikatan dengan struktur keraton seperti di Jawa.

“Di Sumatera Utara, tidak ada kerajaan seperti di Ponorogo. Ini memberi keleluasaan bagi seniman untuk berinovasi,” katanya.

Hal ini juga menciptakan peluang interaksi budaya yang lebih luas. Marga-marga Batak seperti Damanik, Sitorus, dan Sihotang kini juga turut mempelajari dan melestarikan Reog. Di Simalungun, terdapat 46 sanggar seni aktif, meningkat pesat dari hanya 14 pada tahun 2019, dan KJRPS mencatat ada total 179 sanggar Reog di Sumut dengan sekitar 13.000 anggota aktif.

Setiap akhir pekan, sanggar-sanggar ini dipenuhi anak muda yang belajar menari, memainkan alat musik, hingga membuat kostum Reog. Kegiatan ini tak hanya mempertahankan budaya, tetapi juga membangkitkan semangat kolektif lintas generasi.

Kesenian Reog Ponorogo juga tampil dalam berbagai perayaan dan festival budaya, seperti saat F1 Powerboat Danau Toba 2024, di mana Reog menjadi bagian penting dari pertunjukan seni nusantara. Meskipun tidak dicampur secara langsung dengan tarian Simalungun, kehadirannya tetap memperkaya nilai keberagaman dalam satu panggung budaya.

Namun, pelestarian Reog bukan tanpa tantangan. Regenerasi seniman muda, keterbatasan perlengkapan, serta isu-isu keagamaan menjadi perhatian tersendiri. Dimas menegaskan bahwa Reog adalah ekspresi budaya, bukan persoalan keyakinan.

“Ini soal warisan budaya. Bukan akidah. Dan kesenian ini akan terus hidup, selama ada semangat untuk melestarikannya,” jelasnya.

Ia berharap dukungan pemerintah daerah, khususnya di bawah kepemimpinan Bupati Anton Saragih, dapat lebih nyata, seperti penyediaan ruang terbuka hijau untuk latihan serta bantuan anggaran ke sanggar-sanggar terpencil.

Lebih dari sekadar pertunjukan, Reog Ponorogo kini menjadi penggerak ekonomi mikro lewat pengrajin kostum dan UMKM lokal, serta pengikat sosial yang menghidupkan kebersamaan di masyarakat Simalungun. Dukungan lintas etnis memperlihatkan bahwa ketika budaya dihargai bersama, batas identitas melebur dalam semangat persatuan.

“Dengan semangat ini, Reog Ponorogo akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri budaya Simalungun, membuktikan bahwa harmoni budaya bisa tumbuh di mana saja,” pungkas Dimas penuh optimisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *